Budaya karapan sapi di Madura

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2, dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa. Menyebut nama madura, benak kita akan langsung teringat pada budaya khas dari pulau madura, karapan sapi. Karapan sapi adalah perlombaan pacuan sapi ( bull race ) yang mana pada perlombaan ini, sepasang sapi berpacu pada lintasan tanah, menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain.
Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai duapuluh detik. Bagi masyarakat madura sendiri, karapan sapi seakan telah menjadi ajang yang prestisius, terutama bagi para pemilik sapi karapan. Mereka akan semakin terangkat status sosialnya apabila sapi karapan yang dimilikinya berhasil menjuarai perlombaan tersebut. Jangan salah, harga satu ekor sapi karapan, terlebih untuk yang berhasil menjuarai perlombaan karapan sapi, akan bernilai berpuluh - puluh kali lipat dari harga sapi biasa, bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Harga tersebut mungkin akan terasa berimbang, mengingat perawatannya yang juga ekstra super dan melebihi sapi peliharaan pada biasanya, kandang yang khusus dan super bersih, ramuan obat khusus dan berpuluh puluh butir telur yang rutin dan wajib menjadi konsumsi sehari-hari sapi karapan itu sendiri.

Kejuaraan karapan sapi dimulai dari tingkat Kecamatan dilanjutkan ke tingkat Kabupaten dan diteruskan sampai ketingkat Karesidenan. Tradisi Karapan sapi ini biasanya diselenggarakan pada bulan Agustus dan September setiap tahunnya di beberapa wilayah kota Madura. Dengan pertandingan final yang dilakukan pada akhir bulan September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.
Pada setiap diselenggarakannya perlombaan karapan sapi, biasanya akan didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Tradisi ini benar-benar meriah, apalagi alunan musik seronen menonjolkan perpaduan bunyi gendang, terompet, dan gong yang disertai tarian para pemainnya. Para pemusik seronen ini memang sengaja disewa oleh para pemilik sapi, untuk menyemangati anggota kontingen beserta sapi-sapinya sebelum perlombaan karapan sapi dimulai.


All pic by Google



ARTIKEL TERKAIT :

0 komentar:

Poskan Komentar

Agar ter-index oleh mbah google, alangkah lebih baik anda gunakan Alamat Blog/Website anda, jangan lupa juga untuk klik sponsor yang ada di blog ini, siapa tau bermanfaat buat anda,terimakasih.